• Breaking News

    Dengarkan Glest Radio 774 AM - Tangerang ...::...Silahkan dengarkan Glest Radio 774 AM Streaming Di Sini...::...Iklankan Produk dan Usaha Anda di www.glestradio.com atau di Glest Radio 774 AM ...::...Anda Sedang Mendengarkan Glest Radio Streaming, yang dipancarluaskan dari Graha Glest - Tangerang - Banten....::...GLEST GO Green...:::...Mau Pasang iklan Di Glest Radio atau situs glestradio.com silahkan Klik Di Sini

    Sejumlah Wilayah di Jakarta dan Tangerang Masih Banjir


    Tangerang - GlestRadio.com - Ratusan rumah warga di Perumahan Cirendeu Permai, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terendam banjir, Kamis (22/11). Hingga Jumat pagi tadi, air masih menggenangi perumahan yang juga pernah mengalami musibah jebolnya tanggul Situ Gintung. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir ini, namun ketinggian air sempat  mencapai 150 centimeter. Sebanyak 150 KK yang terjebak banjir kemudian dievakuasi ke wilayah yang lebih aman.   

    Salah satu Ketua RW di Perumahan Cirendeu Permai, Seto Mulyadi atau Kak Seto, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan setempat guna memantau kondisi di lokasi.   Menurut Kak Seto banjir kali ini sebagai banjir kiriman dari Bogor. Pasalnya, sejak Rabu malam tidak terjadi hujan. Luapan air baru muncul pada pagi hari dengan ketinggian se lutut orang dewasa. 

    "Waktu pagi, luapan air masih setinggi lutut orang dewasa. Namun, pada sore ini ketinggian air terus naik dan kini sudah melebihi dada orang dewasa," ujar Kak Seto lagi.   

    Tingginya debit air di Perumahan Cirendeu  membuat petugas gabungan dari berbagai instansi terkait terus meningkatkan kewaspadaan di titik rawan banjir. "Kami tetapkan siaga satu banjir 3X24 jam," ungkap Kepala Seksi Mitigasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, Essa Nugraha, Kamis (22/11).   

    Essa menjelaskan, penetapan siaga satu ini karena sejak akhir pekan kemarin bencana banjir telah menggenangi perumahan warga di perumahan Pesona Serpong, kecamatan Setu. Selang empat hari kemudian banjir kembali terjadi di titik rawan lainnya, yakni di perumahan Cirendeu Permai.   

    Sementara itu, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) DKI mencatat, ada 15 kelurahan yang terdiri dari 31 RW dan 87 RT terendam banjir. Bencana ini terutama disebabkan meluapnya Kali Ciliwung dan Pasanggrahan.   

    "Tercatat di 15 kelurahan tersebut terdapat 2.755 kepala keluarga atau 5.407. Mereka masih terendam banjir hingga malam ini (22/11 pukul 20.15 WIB)," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam siaran persnya. 

    Dipaparkan Sutopo, 15 kelurahan yang mulai terendam banjir meliputi Kelurahan Kampung Melayu, Bidara Cina, Cililitan, dan Cawang di wilayah Jakarta Timur, sembilan kelurahan di wilayah Jakarta Selatan, seperti Bukit Duri, Kebon Baru, Pejaten Timur, Ulu Jami, Bintaro, Pondok Pinang, Cipulir, Grogol Selatan, dan Pondok Labu. 

    Dua kelurahan lainnya, yakni Kedoya Selatan dan Sukabumi Selatan berada di wilayah Jakarta Barat. Sebagian besar warga yang menjadi korban banjir masih tetap bertahan di rumah mereka yang sudah terendam. Namun, sebanyak 139 jiwa sudah mengungsi ke tempat yang dirasa lebih aman. "Untuk itu BPBD DKI Jakarta telah menyiapkan posko darurat di tiap kelurahan dan memberikan bantuan darurat kepada masyarakat," katanya. 

    Menurut Sutopo, meluapnya Kali Ciliwung dan Pesanggrahan disebabkan besarnya aliran ke kedua aliran kali tersebut. Sementara kapasitas sungai tidak mampu menampung seluruh debit sungai. "Itu karena adanya sedimentasi dan penyempitan alur sungai," jelasnya. 

    Dikatakan, meluapnya kali karena minimnya kawasan resapan. Hampir 70 persen dari hujan yang turun menjadi limpasan permukaan. Sementara kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 40 persen dari debit banjir yang ada. Dicontohkan, luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Pesanggrahan mencapai 177 kilometer persegi, namun hampir 70 persen kawasan terbangun dari luas DASnya. Sekitar 45 persen dari luas DAS merupakan pemukiman padat, terutama di bagian hilir, seperti Kebayoran Lama, Kedoya dan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Sementara itu, hanya tujuh persen merupakan kawasan hijau yang tidak merata. 

    "Adanya penyempitan dan pendangkalan sungai menyebabkan sekitar 60 persen debit sungai menjadi banjir yang menggenangi permukiman," katanya. [132/F-5]         

    Sumber : Suara Pembaruan 

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Feng Shui

    Otomotif

    Promo